Selasa, 07 Juli 2015

LAJU ENDAP DARAH



            Untuk penetapan laju eritrosit-eritrosit mengendap diperlukan darah yang tidak dapat membeku. Biasanya digunakan semacam anti-koagulans utuk maksud itu.

Cara
A.    Menurut Wintrobe
1.      Darah oxalat atau darah EDTA
2.      Dengan memakai pipet Wintrobe, masukkanlah darah itu ke dalam tabung Wintrobe setinggi garis tanda 0 mm. Jagalah jangan sampai terjadi gelembung hawa atau busa.
3.      Biarkan tabung Wintrobe itu dalam sikap tegak-lurus pada satu tempat yang tak banyak angin selama 60 menit.
4.      Bacalah tingginya lapisan plasma dengan milimeter dan laporkanlah angka itu sebagai laju endap darah.

B.     Menurut Westergen
1.      Isaplah dalam semprit steril 0,4 ml larutan natriumsitrat 3,8% yang steril juga.
2.      Lakukanlah pungsi vena dengan semprit itu dan isaplah 1,6 ml darah sehingga mendapatkan 2,0 ml campuran.
3.      Masukkanlah campuran itu ke dalam tabung dan campurlah baik-baik.
4.      Isaplah darah itu ke dalam pipet Westergen sampai garis bertanda 0 mm, kemudian biarkan pipet itu dalam sikap tegak lurus dalam rak Westergen selama 60 menit.
5.      Bacalah tingginya lapisan plasma dengan milimeter dan laporkanlah angka itu sebagai laju endap darah.


Referensi:
Gandosoebrata, R. Penuntun Laboratorium Klinik, Dian Rakyat. Jakarta, 1984

PENETAPAN KADAR HEMOGLOBIN




            Kadar hemoglobin darah dapat ditentukan dengan bermacam-macam cara . yang banyak dipakai dalam laboratorium klinik ialah cara-cara fotoelektrik dan kolorimetrik visual.
Cara fotoelektrik: sianmethemoglobin
Hemoglobin darah diubah menjadi sianmethemoglobin (hemoglobinsianida) dalam larutan yang berisi kaliumferrisianida dan kaliumsianida. Absorbansi larutan diukur pada gelobang 540 nm atau filter hijau. Larutan Drabkin yang dipakai pada cara ini mengubah hemoglobin, oksihemoglobin, methemoglobin dan karboksihemoglobin menjadi sianmethemoglobin. Sulfhemoglobin tidak berubah dan karena itu tidak ikut diukur.

Cara
1.      Ke dalam tabung kolorimeter dimasukkan 5,0 ml larutan Drabkin.
2.      Dengan pipet hemoglobin diambil 20 µl arah (kapiler, EDTA atau oxalat); sebelah luar ujung pipet dibersihkan, lalu darah itu dimasukkan ke dalam tabung kolorimeter dengan membilasnya beberapa kali.
3.      Campurlah isi tabung dengan membalikkannya beberapa kali. Tindakan ini juga akan menyelenggarakan perubahan hemoglobin menjadi sianmethemoglobin.
4.      Bacalah dalam spektrofotometer pada gelombang 540 nm; sebagai blanko digunakan larutan Drabkin.
5.      Kadar hemoglobin ditentukan dari perbandingan absorbansinya dengan absorbansi standard sianmethemoglobin atau dibaca dari kurve tera.


Referensi:
Gandosoebrata, R. Penuntun Laboratorium Klinik, Dian Rakyat. Jakarta, 1984

PENETAPAN NILAI HEMATOKRIT




            Nilai hematokrit ialah volume semua eritrosit dalam 100 ml darah dan disebut dengan % dari volume darah itu. Biasany nilai itu ditentukan dengan darah vena atau darah kapiler.
Cara
A.    Makrometode menurut Wintrobe
1.      Isilah tabung Wintrobe dengan darah oxalat, heparin atau EDTA sampai garis tanda 100 di atas.
2.      Masukkanlah tabung itu ke dalam sentrifuge yang cukup besar, pusinglah selama 30 menit pada kecepatan 3 000 rpm.
3.      Bacalah hasil penetapan itu dengan memperhatikan:
a.       Warna plasma di atas: warna kuning itu dapat dibandingkan dengan larutan kaliumbichromat dan intensitasnya disebut dengan satuan. Satu satuan sesuai dengan warna kaliumbichromat 1 : 10 000.
b.      Tebalnya lapisan putih di atas sel-sel merah yang tersusun dari leukosit dan trombosit (buffy coat)
c.       Volume sel-sel darah merah.

B.     Mikrometode
1.      Isilah tabung mikrokapiler yang khusus dibuat untuk penetapan mikrohematokrit dengan darah.
2.      Tutuplah ujung satu dengan nyala api atau dengan bahan penutup khusus.
3.      Masukkanlah tabung kapiler itu ke dalam sentrifuge khusus yang mencapai kecepatan besar, yaitu lebih dari 16 000 rpm (sentrifuge mikrohematokrit).
4.      Pusinglah selama 3 – 5 menit
5.      Bacalah nilai hematokrit dengan menggunakan grafik atau alat khusus.


Referensi:
Gandosoebrata, R. Penuntun Laboratorium Klinik, Dian Rakyat. Jakarta, 1984

MENGHITUNG SEL EOSINOFIL



Adakalanya diperlukan hanya jumlah sel eosinofil saja yang terapat dalam 1 µl darah. Cairan pengencer untuk tujuan itu ialah yang mengandung eosin yang memberi warna merah kepada granula eosinofil. Salah satu cairan pengencer ialah yang mempunyai susunan sbb.: larutan eosinofil 2% 5 ml; aceton 5 ml dan aquadest 100 ml. Larutan ini harus disimpan dalam lemari es, hanya tahan satu minggu dan harus disaring sebelum memakainya.
Cara
A.    Mengisi pipet leukosit
Sama seperti tindakan-tindakan pada menghitung leukosit, tetapi di sini darah diisap sampai garis-tanda 1 dan sebagai cairan pengencer dipakai larutan khusus tadi yang diisi sampai garis 11.

B.     Mengisi kamar hitung
Setelah kamar hitung diisi dibiarkan selama 15 menit dalam cawan petri tertutup yang berisi juga sepotong kertas saring basah.

C.    Menghitung jumlah sel
Jumlah sel eosinofil yang dapat dikenal dari granulanya yang berwarna merah, dihitung dalam “seluruh bidang yang dibagi” yaitu dalam 9  (luas) dan 0,1 mm (tinggi).

D.    Perhitungan
Pengenceran darah adalah 10 kali; sel-sel eosinofil yang dihitung terdapat dalam ruang sebesar 0,9 . Julah sel eosinofil yang dihitung dikali 10 x 10 : 9 ialah jumlahnya per µl darah.

Catatan
            Karena jumlahnya kecil, menghitung sel eosinofil tidak dapat dilakukan dengan ketelitian yang sama seperti menghitung leukosit. Kesalahan rata-rata dengan cara di atas mendekati ± 35%.
            Ketelitian menghitung dapat dipertinggi jika menggunakan kamar hitung yang lebih besar volumenya, umpamanya yang menurut Fuchs-Rosenthal yang luasnya 16  dan tingginya 0,2 mm. Jumlah sel eosinofil per µl darah menjadi  (n adalah angka semua sel eosinofil yang terdapat dalam kamar hitung Fuchs-Rosenthal).


Referensi:
Gandosoebrata, R. Penuntun Laboratorium Klinik, Dian Rakyat. Jakarta, 1984